Sarekat Islam : Akar Kebangkitan Nasional dan Kadernya yang Mengukir Sejarah

24 Mei 2026 17:52:57

Disarikan dari berbagai literatur Oleh : Firman Yusi, SP Anggota DPRD Provinsi Kalsel, Fraksi PKS Setiap 20 Mei, bangsa Indonesia memperingati Hari Kebangkitan Nasional. Peringatan ini secara resmi merujuk pada pendirian Budi Utomo pada 20 Mei 1908 oleh para pelajar STOVIA di Batavia. Secara luas, peristiwa ini—bersama Sumpah Pemuda 1928—menjadi simbol transisi perjuangan bangsa, dari perlawanan yang bersifat sporadis dan kedaerahan menuju gerakan terorganisir yang bertujuan mencapai kemerdekaan. Namun, benih-benih kebangkitan sesungguhnya telah bersemi lebih awal. Sebelum 1908, muncul organisasi yang meletakkan fondasi bagi gerakan nasional modern. Ia adalah wadah perjuangan yang menggabungkan solidaritas ekonomi, politik, dan agama secara masif : Sarekat Islam. Cerita Sarekat Islam (SI) bukanlah tentang elite terpelajar yang berdiskusi di ruang kelas kolonial, melainkan perlawanan yang tumbuh dari denyut ekonomi rakyat. Cikal bakalnya adalah Sarekat Dagang Islam (SDI) yang didirikan oleh H. Samanhudi, seorang pengusaha batik dari Pasar Laweyan, Solo, pada 16 Oktober 1905. SDI lahir sebagai respons atas dominasi dan praktik dagang tidak adil oleh pedagang-pedagang besar Tionghoa serta diskriminasi dari kaum bangsawan yang merugikan pedagang pribumi. Arah perjuangan SDI berubah drastis ketika seorang bangsawan terpelajar, Haji Oemar Said (HOS) Tjokroaminoto, bergabung dan kemudian memimpin. Pada tahun 1912, ia mengubah nama SDI menjadi Sarekat Islam, sebuah langkah strategis untuk memperluas cakupan gerakan—tidak terbatas pada pedagang, tetapi terbuka bagi seluruh umat Islam Indonesia dari berbagai lapisan masyarakat. Di bawah kepemimpinan Tjokroaminoto inilah SI menjelma menjadi organisasi pergerakan pertama yang benar-benar berskala nasional. Kebesarannya dapat diukur dari massa yang berhasil dimobilisasi. Jika Budi Utomo tercatat memiliki sekitar 10.000 anggota, SI pada tahun 1916 memiliki sekitar 800.000 hingga bahkan 2 juta anggota yang tersebar dari Jawa, Sumatera, Sulawesi, hingga Maluku. Jumlah yang sangat fantastis pada zamannya ini membuktikan bahwa SI berhasil menyentuh akar rumput, membangkitkan kesadaran politik dan spiritual masyarakat yang selama sekian lama terpasung dalam dua mentalitas yang merusak : mental pasrah dan mental feodal yang melayani kolonial. Keberhasilan SI tidak lepas dari kepemimpinan karismatik HOS Tjokroaminoto. Ia dijuluki oleh penulis Belanda sebagai "De Ongekroonde van Java" (Raja Jawa Tanpa Mahkota) karena pengaruhnya yang luar biasa. Pidato-pidatonya yang berapi-api mampu membangkitkan nasionalisme religius dengan ajaran "Setinggi-tingginya ilmu, semurni-murni tauhid, sepintar-pintar siasat". Namun, mungkin warisan terbesarnya justru tidak terletak pada pidato atau keanggotaan organisasi, melainkan pada rumah kontrakannya di Jalan Peneleh, Surabaya. Rumah kos yang dikelola istrinya ini menjadi tempat tinggal bagi para pemuda yang kelak menjadi aktor utama sejarah Indonesia antara lain ; Soekarno, Musso, Alimin, hingga Kartosoewirjo ada di antara mereka yang mengontrak dan berdiskusi tentang ide-ide kebangsaan di sana. Di "kawah candradimuka" inilah Soekarno muda diasah kemampuan orasinya serta ditanamkan gagasan pergerakan yang kelak membawanya ke puncak kemerdekaan. Tjokroaminoto adalah guru bagi para pendiri bangsa, meskipun ia sendiri tak pernah menyaksikan proklamasi. Di luar kontrakan Peneleh, SI mencetak deretan tokoh yang kemudian memainkan peran vital di panggung nasional. Haji Agus Salim: Sang "Grand Old Man" Diplomasi. Bergabung sekitar tahun 1915, Agus Salim dengan cepat menjadi tangan kanan Tjokroaminoto. Sebagai seorang intelektual dengan penguasaan tujuh bahasa asing, ia membawa kedalaman pemikiran Islam yang rasional dan progresif ke dalam tubuh SI. Perannya menjadi krusial dalam diplomasi Indonesia, terutama setelah kemerdekaan. Ia menjadi anggota Panitia Sembilan yang merumuskan Pancasila, Wakil Menteri, dan kemudian Menteri Luar Negeri. Julukan "The Grand Old Man" melekat padanya sebagai diplomat ulung yang memperjuangkan kedaulatan Indonesia di forum internasional. Adalah Abdul Muis, pahlawan nasional pertama dengan penanya yang tajam. Bergabung pada tahun 1913, Abdul Muis adalah jurnalis dan sastrawan andal yang menjadikan media sebagai alat perjuangan. Melalui tulisan-tulisannya di surat kabar, ia mengkritik kebijakan kolonial dan membangun opini publik. Keberaniannya dalam memperjuangkan hak-hak rakyat mengantarkannya menjadi anggota Volksraad mewakili SI. Sebagai sastrawan, novelnya yang terkenal, Salah Asuhan (1928), adalah kritik tajam terhadap dampak budaya kolonialisme. Atas jasa-jasanya, ia ditetapkan oleh Presiden Soekarno pada tahun 1959 sebagai Pahlawan Nasional pertama di Indonesia. Sarekat Islam bukanlah organisasi yang mulus. Ia mengalami perpecahan, terutama akibat masuknya paham komunis yang akhirnya memisahkan diri mendirikan PKI. Namun, kontribusinya sebagai organisasi pergerakan nasional pertama tidak dapat ditepis. Ia telah mendobrak sekat-sekat kedaerahan dan melibatkan rakyat dalam jumlah besar ke dalam kesadaran politik modern. Lebih dari sekadar organisasi, SI adalah kawah tempat para pemimpin masa depan ditempa, ide-ide kebangsaan diuji, dan semangat anti-kolonialisme disebarluaskan ke seluruh pelosok nusantara. Para kadernya, baik langsung maupun tidak langsung, adalah arsitek yang mengukir pilar-pilar kemerdekaan Indonesia. Kebangkitan Nasional bukan hanya tentang satu organisasi atau satu tanggal, melainkan tentang proses panjang yang salah satu fondasi utamanya diletakkan dengan kokoh oleh perjuangan Sarekat Islam.