Merajut Kesejahteraan Pekerja di Kalimantan Selatan melalui Harmoni UMP, KHL, dan Pengendalian Inflasi

06 Januari 2026 10:43:11

Oleh : Firman Yusi, SP Anggota Komisi II (Bid. Ekonomi dan Keuangan) DPRD Kalsel Ketua Bidang Advokasi, Kebijakan Publik, Ketenagakerjaan, Petani, Peternak dan Nelayan DPW PKS Kalsel Kesejahteraan pekerja merupakan fondasi utama dalam membangun perekonomian daerah yang inklusif dan berkelanjutan. Di Kalimantan Selatan, provinsi yang kaya akan sumber daya alam, terutama batubara, namun juga menghadapi kompleksitas struktur ketenagakerjaan, upaya menyejahterakan pekerja adalah sebuah keniscayaan. Trilogi Upah Minimum Provinsi (UMP), Kebutuhan Hidup Layak (KHL), dan pengendalian inflasi adalah tiga pilar yang saling terkait erat dan harus disinergikan dalam satu strategi holistik. Tanpa keseimbangan di antara ketiganya, upaya peningkatan upah hanya akan menjadi “lari di tempat”, terserap oleh kenaikan harga, sementara pengendalian inflasi tanpa peningkatan daya beli hanya akan mempertahakan stagnasi kesejahteraan. Upah Minimum Provinsi (UMP) adalah standar upah terendah yang berlaku secara provinsi, yang ditetapkan setiap tahun melalui proses pertimbangan Dewan Pengupahan Provinsi dengan komponen utama Kebutuhan Hidup Layak (KHL) dan pertumbuhan ekonomi. KHL sendiri adalah sejumlah kebutuhan minimal seorang pekerja lajang untuk hidup secara layak selama satu bulan, baik fisik maupun non-fisik, meliputi makanan-minuman, perumahan, sandang, pendidikan, kesehatan, transportasi, rekreasi, serta tabungan. Sementara itu, inflasi adalah musuh tak terlihat dari kesejahteraan. Kenaikan harga-harga barang dan jasa secara umum dan terus-menerus akan menggerus nilai riil upah yang diterima. Sebuah kenaikan UMP yang nominalnya besar bisa menjadi sia-sia jika laju inflasi, terutama pada komponen inti seperti pangan dan energi, lebih tinggi atau setara. Di Kalimantan Selatan, tantangannya semakin spesifik. Provinsi ini memiliki dualitas ekonomi: sektor pertambangan yang padat modal dengan produktivitas tinggi, dan sektor perdagangan, jasa, serta pertanian/perkebunan (seperti sawit dan karet) yang menyerap banyak tenaga kerja namun dengan produktivitas yang seringkali terbatas. Penetapan UMP yang seragam untuk semua sektor ini kerap menuai pro-kontra. Di satu sisi, pekerja di sektor informal atau UMKM merasa UMP belum mencukupi, di sisi lain, pengusaha di sektor non-tambang mengeluh beban UMP memberatkan. Pada tahun 2024, UMP Kalimantan Selatan ditetapkan sebesar Rp 3.413.430. Pertanyaan kritisnya adalah: apakah angka ini telah memenuhi KHL? Perhitungan KHL biasanya dilakukan bersama unsur pemerintah dengan serikat pekerja/serikat buruh melalui survei terhadap sejumlah komoditas di pasar. Seringkali, ditemukan kesenjangan antara angka KHL yang diusulkan berdasarkan survei nyata dengan UMP yang akhirnya ditetapkan. Penyebabnya kompleks, perdebatan sering muncul mengenai item-item dalam keranjang KHL. Apakah sudah mencerminkan kebutuhan “layak” di era digital? Bagaimana dengan biaya komunikasi dan akses informasi? Penyempurnaan metodologi penghitungan KHL yang adaptif terhadap perubahan zaman adalah keharusan. Pemerintah daerah juga harus menimbang kemampuan bertahan (survival) dunia usaha, terutama UMKM. Kenaikan upah yang drastis tanpa diimbangi peningkatan produktivitas berisiko memicu pemutusan hubungan kerja (PHK) atau informalisasi tenaga kerja. Pertumbuhan ekonomi, inflasi, dan kondisi ketenagakerjaan menjadi pertimbangan teknis. Jika pertumbuhan ekonomi melambat atau inflasi tinggi, ruang fiskal untuk menaikkan UMP secara signifikan menjadi terbatas. Jurang antara UMP dan KHL yang sebenarnya inilah yang sering membuat pekerja, khususnya di kota-kota seperti Banjarmasin, Banjarbaru, dan Martapura, masih kesulitan memenuhi kebutuhan dasar, apalagi untuk mereka yang sudah berkeluarga. UMP pada dasarnya adalah upah untuk pekerja lajang. Kalimantan Selatan tidak imun dari gejolak inflasi nasional. Inflasi pangan, seperti harga cabai, bawang, telur, dan daging ayam, sangat sensitif di daerah ini. Selain itu, sebagai provinsi dengan kehadiran wilayah kepulauan dan terpencil, biaya transportasi dan logistik berkontribusi besar terhadap tingkat inflasi daerah. Ketika inflasi tinggi, terutama pada komponen-komponen yang masuk dalam KHL, maka terjadi penurunan daya beli upah secara nyata. Kenaikan UMP 5% akan menjadi nihil jika inflasi di Kalimantan Selatan mencapai, misalnya, 4%. Hanya tersisa 1% peningkatan riil. Oleh karena itu, kebijakan upah tidak dapat berdiri sendiri. Ia harus disertai dengan strategi pengendalian inflasi yang agresif dan terukur di tingkat daerah. Membangun kesejahteraan pekerja memerlukan pendekatan kolaboratif dari pemerintah daerah, asosiasi pengusaha, serikat pekerja, dan seluruh masyarakat. Dewan Pengupahan Provinsi harus melibatkan berbagai pemangku kepentingan secara lebih inklusif dalam survei KHL. Komponen KHL perlu ditinjau ulang secara periodik, dengan mempertimbangkan biaya akses kesehatan, pendidikan keterampilan, serta transportasi yang layak. Untuk mengurangi ketimpangan antar sektor, penerapan UMSK perlu dioptimalkan. Sektor dengan produktivitas dan kemampuan bayar tinggi (seperti pertambangan) dapat memiliki UMSK yang lebih tinggi, sementara sektor yang terdampak musim atau berprofitabilitas rendah (seperti perkebunan rakyat) dapat lebih realistis. Ini menciptakan keadilan tanpa membebani satu pihak. Pemerintah Provinsi dan Kabupaten/Kota harus fokus pada ketahanan pangan lokal. Mengembangkan sentra produksi hortikultura, peternakan unggas, dan perikanan tangkap/budidaya yang modern dan efisien. Program seperti “Food Estate” harus benar-benar menyasar stabilisasi pasokan, bukan hanya proyek fisik. Memperbaiki infrastruktur pasar tradisional, mendorong pembentukan pasar induk, dan meningkatkan efisiensi rantai pasok dari produsen ke konsumen dapat menekan biaya distribusi yang merupakan pemicu inflasi. Program “Toko Bahan Pokok” atau “Pasar Murah” yang digelar secara rutin di titik-titik padat pekerja dapat menjadi shock absorber. Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) harus aktif mengawasi harga dan stok bahan pokok. Tindakan tegas terhadap praktik penimbunan, spekulasi, dan kartel harga sangat penting untuk menciptakan iklim pasar yang sehat. Masyarakat, termasuk pekerja, perlu memahami faktor-faktor penyebab inflasi dan langkah yang diambil pemerintah. Komunikasi yang baik dapat mengelola ekspektasi dan mencegah kepanikan yang memicu panic buying. Kesejahteraan sejati datang dari upah yang tinggi karena produktivitas yang tinggi. Pemerintah bersama dunia usaha perlu gencar menyelenggarakan pelatihan vokasi yang sesuai dengan kebutuhan industri di Kalsel, seperti di bidang pertambangan yang bertanggung jawab, agroindustri, logistik, dan ekonomi digital. Pekerja yang terampil berhak atas upah yang lebih baik. Memperkuat UMKM dan koperasi berarti menciptakan lapangan kerja yang lebih produktif dan berkelanjutan. Akses permodalan, teknologi, dan pasar yang dibuka pemerintah akan membantu pelaku usaha meningkatkan skala dan kemampuan membayar upah yang layak. Kebijakan investasi daerah harus diarahkan pada industri yang menciptakan banyak lapangan kerja dengan upah yang kompeten, bukan hanya industri ekstraktif. Pengolahan hasil perikanan, perkebunan, dan kehutanan menjadi produk akhir adalah contohnya. Membangun kesejahteraan pekerja di Kalimantan Selatan adalah sebuah perjalanan, bukan tujuan instan. Membangun keseimbangan antara UMP dan KHL sambil mengendalikan inflasi adalah jantung dari perjalanan ini. Ketiganya bagai sebuah tripod: jika satu kaki lemah, seluruh struktur menjadi tidak stabil. Pemerintah daerah memegang peran sebagai dirigen yang harus memastikan harmoni. Dunia usaha harus menjadi mitra yang bertanggung jawab, melihat pekerja sebagai aset, bukan beban. Serikat pekerja harus menjadi kontrol sosial yang konstruktif, tidak hanya menuntut hak tetapi juga mendorong peningkatan kompetensi anggotanya. Dan yang terpenting, para pekerja sendiri harus terus berinvestasi pada keterampilan diri. Dengan sinergi ini, upah minimum tidak hanya sekadar angka administratif, tetapi benar-benar menjadi instrumen untuk mencapai Kebutuhan Hidup Layak yang dinamis. Inflasi bisa dikelola, bukan ditakuti. Pada akhirnya, kesejahteraan pekerja Kalimantan Selatan akan menjadi mesin penggerak utama bagi terwujudnya ekonomi provinsi yang lebih maju, adil, dan berkelanjutan untuk semua. Langkahnya harus dimulai hari ini, dengan komitmen bersama dan strategi yang terpadu.

Baca Selengkapnya...
Momentum 5 Rajab di Sekumpul : Dari Ritual Keagamaan Menuju Kebangkitan Ekonomi dan Budaya Islami

03 Januari 2026 17:04:38

Oleh : Firman Yusi, SP Anggota Komisi II DPRD Kalsel Sekretaris Fraksi PKS Ketua Bidang Advokasi, Kebijakan Publik, Petani, Peternak dan Nelayan DPW PKS Kalsel Kehadiran ratusan ribu jamaah di Martapura, Kalimantan Selatan, setiap 5 Rajab merupakan fenomena spiritual yang luar biasa. Kerumunan manusia yang memadati kompleks makam Guru Sekumpul bukan sekadar angka statistik; ia adalah bukti nyata kekuatan magnet spiritual, kultural, dan sosial yang dimiliki tanah Banjar. Lebih menarik lagi, data bahwa banyak jamaah, terutama dari luar Kalsel, memilih untuk bertahan beberapa hari di Banjarbaru, Banjarmasin, dan Martapura pasca-acara, adalah "golden data" yang tidak boleh diabaikan. Ini bukan sekadar kunjungan, tapi "religious staycation" yang menyimpan potensi ekonomi besar. Dengan tanpa mengecilkan makna religius dari momen 5 Rajab, momentum ini harus juga dilihat sebagai peluang strategis yang jauh lebih besar. Gelombang manusia ini tidak hanya datang untuk berziarah dan berdoa, tetapi juga membawa kebutuhan akan pengalaman, pengetahuan, dan produk yang selaras dengan nilai-nilai Islami. Oleh karena itu, sudah saatnya momentum 5 Rajab dielevasi menjadi sebuah "Festival Budaya dan Ekonomi Islami Kalimantan Selatan" yang berkelanjutan. Berikut adalah kerangka gagasan untuk menyelenggarakan event pendukung yang dapat menggairahkan UMKM dan Pariwisata : Islamic Cultural Festival (Seminggu Sebelum/Sesudah 5 Rajab) Pameran Seni dan Budaya Islam Banjar yang menampilkan kaligrafi, manuskrip kuno, seni pahat ukir, hingga fashion bernuansa Islami dengan sentuhan motif Sasirangan dan tenun tradisional. Festival ini bisa menjadi platform bagi seniman dan perajin lokal. Atau juga ini bisa menjadi platform bagi seniman dan perajin lokal, dan Pagelaran Budaya yang menampilkan musik hadrah, qasidah modern, teater religi, dan pembacaan syair Banjar bernapas Islami, menarik minat semua kalangan. Expo Produk Halal & UMKM Lokal Pameran produk-produk halal unggulan Kalsel, mulai dari makanan khas (amplang, dodol, sate itik), kopi khas, produk kesehatan herbal (jamu Banjar), hingga kerajinan tangan (tapis, anyaman purun). Targetkan sebagai oleh-oleh wajib bagi jamaah. Demikian juga dengan Bazaar Kuliner Halal Nusantara yang menyediakan berbagai panganan dari seluruh Indonesia dengan standar halal yang ketat, menjawab kebutuhan jamaah yang tinggal lebih lama. Bahkan kalau dimungkinkan juga dapat pelatihan singkat membuat kerajinan atau masakan khas Banjar dapat menjadi pengalaman wisata yang menarik (edutourism). Pengembangan Paket Wisata Religi Terintegrasi "Spiritual & Cultural Journey": Menciptakan paket wisata 3-5 hari yang tidak hanya ke Sekumpul, tetapi juga mengunjungi masjid bersejarah (Masjid Sultan Suriansyah), situs budaya (Komplek Pemakaman Sultan Banjar), pusat pemotongan permata Martapura, dan sungai-sungai di Martapura dan Banjarmasin. Manfaat yang didapat antara lain adalah ; bagi UMKM: Pasar yang langsung menyasar ratusan ribu pembeli potensial. Branding produk lokal menguat dan jaringan pemasaran meluas. Sedang bagi sektor pariwisata adalah meningkatknya angka kunjungan wisatawan (wisman dan wisnus), lama tinggal (length of stay), dan pengeluaran mereka di Kalsel. Citra Kalsel sebagai destinasi wisata religi dan budaya semakin kokoh. Untuk masyarakat Kalsel sendiri dalam jangka panjang maupun pendek dapat menciptakan lapangan kerja, peningkatan pendapatan keluarga, dan pelestarian budaya lokal dalam kemasan yang relevan. Sementara bagi jamaah yang datang merupakan pengalaman beribadah yang lebih bermakna dilengkapi dengan pengalaman budaya, kuliner, dan belanja produk halal yang memuaskan. Gelombang jamaah 5 Rajab adalah anugerah sosial-ekonomi tahunan yang harus dikelola dengan visioner. Dengan mentransformasikannya dari event sekali datang menjadi "Festival Bulan Rajab" yang meriah dan bernilai tambah tinggi, kita tidak hanya menghormati ritual keagamaan, tetapi juga memberdayakan ekonomi kerakyatan dan mempromosikan wajah Islam yang ramah, berkemajuan, dan berbudaya asli Indonesia (Banjar). Mari jadikan Martapura bukan hanya sebagai episentrum spiritual, tetapi juga sebagai episentrum kebangkitan ekonomi kreatif berbasis nilai-nilai Islami.

Baca Selengkapnya...
Menanam Harapan : Dari Satu Pohon Menuju Hutan Perubahan

16 Desember 2025 12:38:32

Kalau kita tidak bisa menyelamatkan seribu pohon, maka setidaknya tanamlah satu pohon. FIRMAN YUSI, SP Anggota DPRD Provinsi Kalsel Kabid Advokasi, Kebijakan Publik, Ketenagakerjaan, Petani, Peternak & Nelayan DPW PKS Kalsel Dunia kita sedang berbicara dalam bahasa yang tidak lagi bisa kita abaikan. Suaranya adalah mencairnya es di kutub, napasnya adalah udara yang kian panas dan tercemar, dan tangisnya adalah hilangnya ribuan spesies setiap tahunnya. Di tengah laporan-laporan ilmiah yang suram dan bencana iklim yang kian sering, pesimisme mudah sekali bersarang. Sebuah pertanyaan menghantui: “Apa gunanya usaha kecil saya, ketika masalahnya begitu besar?” Fenomena ini, sering disebut “eco-anxiety” atau “solastalgia” (kesedihan akan kerusakan lingkungan tempat tinggal), melumpuhkan banyak orang, membuat mereka diam dalam kepasifan karena merasa tindakan individu tidak ada artinya. Di sinilah falsafah sederhana namun dahsyat hadir sebagai penawar: “Kalau kita tidak bisa menyelamatkan seribu pohon, maka setidaknya tanamlah satu pohon.” Kalimat ini bukan sekadar ajakan untuk menanam. Ini adalah sebuah deklarasi filosofis, sebuah strategi psikologis, dan sebuah peta jalan aksi kolektif. Ia mengakui keterbatasan kita tanpa menyerah pada keputusasaan. Ia memusatkan perhatian pada apa yang mungkin, bukan pada apa yang mustahil. Bagi organisasi peduli lingkungan, kalimat ini bukan slogan, melainkan inti dari semangat dan metodologi perjuangan: semangat yang mengubah beban menjadi harapan, dan pesimisme menjadi progres yang nyata. Pesimisme terhadap usaha perbaikan lingkungan bukanlah sikap yang muncul dari ruang hampa. Perubahan iklim, deforestasi, polusi plastik di lautan—semuanya adalah masalah global dengan angka-angka yang astronomis. Menyebut “jutaan hektar hutan hilang” atau “miliaran ton karbon dioksida” menciptakan jarak psikologis. Otak kita sulit memproses angka sebesar itu, yang pada akhirnya menciptakan perasaan “tidak terjangkau” dan “di luar kendali”. Masyarakat sering dihadapkan pada narasi yang menyalahkan individu (kurangi sampah plastikmu!) sementara sebagian besar emisi dan kerusakan berasal dari sistem industri dan kebijakan korporasi yang tidak berkelanjutan. Kesenjangan ini menimbulkan kekecewaan dan sikap sinis: “Mereka yang merusak tidak bertanggung jawab, mengapa saya yang harus berkorban?” Kecurigaan bahwa jika saya berusaha keras sementara orang lain tidak, maka usaha saya akan sia-sia dan orang lain akan menikmati keuntungannya. Ini mematikan motivasi untuk memulai. Banjir informasi—mulai dari diet ramah lingkungan, energi terbarukan, hingga fast fashion—seringkali kontradiktif dan membingungkan. Hal ini dapat menyebabkan “paralisis analisis”, di mana seseorang begitu kewalahan sehingga memilih untuk tidak melakukan apa-apa. Pesimisme adalah monster yang mengatakan, “Kamu terlalu kecil, masalahnya terlalu besar. Berhentilah.” Organisasi lingkungan hidup bertugas bukan untuk menyangkal keberadaan monster ini, tetapi untuk mengakui suaranya, lalu membekali setiap orang dengan senjata untuk melawannya: satu tindakan nyata. Menanam satu pohon adalah sebuah tindakan yang penuh makna filosofis. Ia adalah penolakan terhadap nihilisme ekologis. Sebuah biji yang tertanam adalah pernyataan keyakinan akan masa depan. Kita mempercayai bahwa akan ada hari esok yang cukup panjang bagi benih itu untuk tumbuh, bahwa bumi masih akan menyediakan air dan nutrisi. Dalam konteks pesimisme, menanam adalah tindakan beriman—bukan dalam arti religius semata, tetapi beriman pada proses, pada siklus alam, dan pada kapasitas kehidupan untuk pulih. Dengan menanam satu pohon, kita mengklaim kembali kekuatan dan tanggung jawab kita. Kita bergerak dari posisi “korban” pasif dari sistem yang rusak, menjadi “agen” aktif perbaikan. Tindakan kecil ini memutus siklus mental ketidakberdayaan. Psikologi membuktikan bahwa tindakan proaktif, sekecil apa pun, mengurangi kecemasan dan meningkatkan perasaan bermakna. Tidak ada perubahan besar yang terjadi secara instan. Perubahan adalah akumulasi dari titik-titik kritis kecil. Satu pohon mungkin tidak menghentikan banjir, tetapi seribu pohon yang ditanam oleh seribu individu yang terinspirasi oleh filosofi yang sama dapat mengubah aliran air, mencegah erosi, dan menciptakan mikro-iklim. Satu tindakan adalah partikel kecil yang mendorong sistem mendekati titik ambang menuju transformasi. Menyelamatkan “seribu pohon” di Kalimantan mungkin terasa jauh dan abstrak. Namun, menanam satu pohon di halaman sekolah, di tepi jalan kampung, atau di lahan kritis dekat rumah adalah sesuatu yang langsung, kontekstual, dan dapat dipantau. Keberhasilannya terlihat, dampaknya dirasakan (naungan, buah, serapan air). Ini membangun hubungan emosional dan tanggung jawab langsung antara si penanam dan lingkungan sekitarnya. Di sinilah organisasi peduli lingkungan berperan sentral. Mereka adalah katalisator yang mengubah energi potensial dari ribuan “satu pohon” individu menjadi kekuatan kolektif yang terorganisir dan berdampak sistemik. Organisasi mengubah tindakan personal menjadi bagian dari gerakan yang lebih besar. Ketika seseorang menanam pohon melalui program “One Man One Tree” atau “Adopsi Pohon”, ia tidak hanya menanam untuk dirinya sendiri. Ia menjadi bagian dari data statistik, dari peta penghijauan, dari cerita sukses kolektif yang bisa dilaporkan dan dibanggakan. Ini memberikan makna sosial pada tindakan individu. Organisasi menciptakan komunitas yang saling mengawasi dan mendukung. Melalui kelompok ini, setiap orang bisa melihat bahwa orang lain juga berkomitmen. Trust (kepercayaan) dibangun. Tidak ada lagi perasaan berjuang sendirian. Kerja bakti penghijauan, misalnya, adalah manifestasi fisik dari prinsip gotong royong mengelola “commons” (milik bersama). Organisasi berperan sebagai kurator informasi yang terpercaya. Daripada membingungkan anggota dengan semua masalah, mereka dapat berkata, “Mari kita fokus pada satu solusi konkret yang bisa kita lakukan bersama minggu ini: menanam pohon jenis ini, di lokasi ini, dengan cara ini.” Ini menghilangkan kebingungan dan memandu aksi langsung. Organisasi dapat mendokumentasikan progres. Foto “before-after” sebuah bukit gundul yang menjadi rimbun setelah lima tahun penanaman berkala adalah senjata ampuh melawan pesimisme. Data karbon terserap, jumlah keluarga yang sumber airnya pulih, atau peningkatan keanekaragaman hayati lokal menjadi bukti nyata bahwa usaha kecil yang konsisten membuahkan hasil. Sementara anggota bergerak di akar rumput dengan menanam pohon, organisasi dapat menggunakan momentum, data, dan legitimasi dari aksi tersebut untuk melakukan lobi dan advokasi. Mereka dapat mendorong peraturan daerah tentang ruang terbuka hijau, mengawasi izin penebangan, atau mengusulkan kebijakan penghijauan kota. “Satu pohon” yang ditanam warga menjadi bukti komitmen publik yang tidak bisa diabaikan oleh pembuat kebijakan. Mengapa pohon? Karena pohon adalah unit ekosistem yang lengkap dan metafora yang sempurna untuk kesinambungan. Akar satu pohon menyimpan ribuan liter air, mencegah kekeringan dan banjir. Ia mengikat tanah, mencegah longsor. Sepanjang hidupnya, satu pohon menyerap puluhan ton karbon dioksida. Ia adalah teknologi alamiah paling efisien untuk mitigasi iklim. Satu pohon menjadi rumah bagi ratusan spesies: burung, serangga, mamalia kecil, jamur, mikroba. Menanam satu pohon adalah membangun sebuah apartemen untuk keanekaragaman hayati. Kontak dengan pohon dan alam (shinrin-yoku atau “forest bathing”) terbukti menurunkan stres, meningkatkan mood, dan memperkuat sistem imun. Dengan menanam pohon, kita juga menanam “kesehatan mental” bagi komunitas. Satu pohon yang ditanam hari ini akan memberikan naungan, buah, dan keindahan untuk generasi berikutnya. Ia adalah pesan harapan untuk anak cucu kita. Organisasi lingkungan harus secara aktif membangun narasi tandingan terhadap pesimisme. Tegaskan bahwa perubahan ekologis bukan seperti mengubah saluran TV. Ia seperti menumbuhkan hutan—perlahan, bertahap, tetapi pasti. Setiap pohon adalah investasi jangka panjang. Planet Bumi akan terus berputar. Isunya adalah tentang menyelamatkan kelayakhunian planet ini untuk manusia dan spesies lainnya. Fokus pada penciptaan dunia yang lebih sehat, adil, dan indah untuk dihuni hari ini. Alih-alih hanya menyoroti rasa bersalah dan ketakutan (doom and gloom), soroti sukacita dalam aksi. Kegembiraan melihat tunas pertama, kepuasan makan buah dari pohon yang ditanam sendiri, kebanggaan melihat burung bersarang. Aksi lingkungan bukan hanya pengorbanan, tetapi juga sumber kebahagiaan dan identitas yang positif. Kalimat “tanamlah satu pohon” adalah sebuah revolusi mental. Ia adalah perlawanan halus terhadap budaya instan dan keputusasaan. Ia mengajarkan kita bahwa di hadapan tantangan yang sangat besar, kejayaan tidak terletak pada menyelesaikan semua masalah sekaligus, tetapi pada keberanian untuk mengambil bagian, sekecil apa pun. Bagi organisasi peduli lingkungan, misi mereka adalah menjadi inkubator bagi biji-biji keberanian ini. Mereka adalah tanah subur di mana semangat individu bertemu strategi kolektif. Dengan merangkul filosofi “satu pohon”, organisasi tidak hanya menambah jumlah vegetasi di bumi, tetapi juga menumbuhkan hutan harapan di dalam hati manusia. Mereka membuktikan bahwa kita tidak perlu menjadi pahlawan super yang menyelamatkan dunia sendirian. Kita hanya perlu menjadi tetangga yang peduli, warga yang bertanggung jawab, dan bagian dari komunitas yang percaya bahwa sekumpulan aksi kecil yang terkoordinasi dengan baik pada akhirnya akan menciptakan gelombang perubahan yang dahsyat. Jadi, mari kita mulai. Tidak dengan mengutuk kegelapan, tetapi dengan menyalakan lilin kecil. Tidak dengan meratapi hilangnya seribu pohon, tetapi dengan membenamkan satu biji ke dalam tanah, menyiraminya dengan tekun, dan merawatnya dengan sabar. Dari biji itu, mungkin akan tumbuh bukan hanya sebuah pohon, tetapi juga sebuah keyakinan: bahwa di tengah segala pesimisme, tindakan kita—sungguh-sungguh, konsisten, dan kolektif—tetap memiliki kekuatan untuk menulis ulang masa depan. Dan siapa tahu, dari satu pohon itu, suatu hari nanti, akan tumbuh hutan yang lebat; hutan yang tidak hanya terdiri dari pepohonan, tetapi dari jutaan kisah tentang manusia yang memilih untuk tidak menyerah, dan memilih untuk menanam.

Baca Selengkapnya...
Selamat Hari Jadi ke-60 Kabupaten Tabalong

09 Desember 2025 08:06:44

FIRMAN YUSI, SP Anggota DPRD Kalsel Fraksi PKS Daerah Pemilihan Kalsel 5 (Tabalong, HSU dan Balangan) Dalam suasana sukacita dan penuh makna, saya, Firman Yusi, Anggota DPRD Provinsi Kalimantan Selatan, menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada seluruh jajaran Pemerintah Kabupaten Tabalong, para tokoh masyarakat, dan seluruh warga atas peringatan Hari Jadi ke-60 Kabupaten Tabalong yang jatuh pada hari ini. Enam puluh tahun adalah usia yang matang, menandai enam dasawarsa perjuangan dan pembangunan yang telah membawa Kabupaten Tabalong mencapai kemajuan signifikan di berbagai sektor. Saya memberikan penghargaan khususnya kepada Pemerintah Kabupaten Tabalong atas kerja keras dan dedikasinya yang terwujud dalam berbagai capaian nyata hingga tahun 2025, Capaian tersebut antara lain adalah ; Keberhasilan dalam menekan angka kemiskinan dan meningkatkan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) menunjukkan fokus yang kuat pada peningkatan kualitas hidup masyarakat, Pembangunan dan perbaikan , baik jalan, jembatan, maupun fasilitas publik lainnya, telah memperlancar konektivitas dan mendukung pertumbuhan ekonomi daerah, langkah-langkah strategis dalam pengembangan sektor unggulan non-tambang, seperti pertanian, perkebunan, dan pariwisata, telah memperkuat pondasi ekonomi Tabalong dalam menghadapi tantangan global dan Upaya dalam menciptakan tata kelola pemerintahan yang transparan, akuntabel, dan responsif telah meningkatkan kepercayaan publik dan efektivitas pelayanan. Dengan capaian yang telah diraih, harapan saya untuk Kabupaten Tabalong ke depan semakin besar. Peringatan hari jadi ini harus menjadi momentum untuk memacu semangat agar Tabalong terus bergerak maju. Tabalong harus terus berinovasi dalam membuka lapangan kerja, meningkatkan investasi, dan mendorong UMKM lokal agar masyarakat dapat merasakan pertumbuhan ekonomi secara adil dan merata. Pendidikan dan kesehatan harus menjadi prioritas utama untuk menciptakan generasi Tabalong yang unggul, berdaya saing, dan siap menghadapi era industri 4.0. Mengingat kekayaan alam Tabalong, penting bagi pemerintah daerah untuk memperkuat kebijakan yang berpihak pada pelestarian alam. Pembangunan harus seimbang dengan upaya menjaga ekosistem, mengendalikan dampak lingkungan, dan menjamin warisan alam yang indah ini dapat dinikmati oleh anak cucu kita. "Selamat Hari Jadi ke-60 Kabupaten Tabalong. Mari kita jadikan usia yang ke-60 ini sebagai titik tolak untuk mewujudkan Tabalong yang semakin maju, masyarakatnya semakin sejahtera, dan alamnya tetap terjaga kelestariannya. Semoga Allah SWT senantiasa melimpahkan rahmat-Nya bagi bumi Tabalong." KOLABORASI, SINERGI DAN INOVASI UNTUK TABALONG SMART

Baca Selengkapnya...
SPPG/Dapur MBG: Jembatan Emas antara Lahan Petani Kalsel dan Piring Bergizi Anak Sekolah

05 Desember 2025 14:33:38

Oleh : FIRMAN YUSI, SP Anggota Komisi II DPRD Kalsel Kabid Advokasi, Kebijakan Publik, Ketenagakerjaan. Petani, Peternak & Nelayan DPW PKS Kalsel Kehadiran Sentra Produksi Pangan dan Gizi (SPPG) atau Dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) dalam program nasional ini bukan sekadar unit pengolah makanan. Ia adalah simpul strategis yang dapat mentransformasi program dari sekadar "makan gratis" menjadi ekosistem ekonomi sirkular berbasis lokal. Di Kalimantan Selatan, kehadiran SPPG/Dapur MBG merupakan peluang konkret untuk membangun rantai pasok yang memihak petani lokal. Dapur MBG yang didesain dengan baik dapat menjawab beberapa tantangan sekaligus, SPPG yang tersebar di tingkat kecamatan atau klaster sekolah menjadi titik penyerapan (off-taker) tetap dan terprediksi bagi hasil pertanian/perikanan petani di sekitarnya. Ini mengurangi ketergantungan pada pasar induk yang fluktuatif. Setiap SPPG akan menjadi pusat aktivitas ekonomi baru, menciptakan lapangan kerja untuk tenaga pengolah, admin, dan logistik lokal. Uang yang dialokasikan pemerintah beredar di level komunitas terdekat. SPPG yang dikelola dengan standar dapat melakukan sortasi dan pengecekan kualitas bahan baku secara langsung dari petani. Ini juga menjadi kontrol kualitas alami bagi produk petani. Dapur ini menjadi tempat inovasi menu berbasis bahan lokal Kalsel (seperti patin, kangkung darat, ubi ungu Banjar) oleh ahli gizi dan koki setempat, meningkatkan nilai jual dan diversifikasi pangan. Untuk dapat mengambil manfaat dari kehadiran SPPG/Dapur MBG, kelompok tani harus proaktif menjalin kontrak/kemitraan pasokan jangka menengah dengan pengelola SPPG terdekat. Ini memberikan kepastian pasar dan memudahkan perencanaan tanam. Koordinasi dengan manajemen SPPG untuk menyelaraskan jadwal tanam dengan menu sekolah. Misal, jika menu ikan patin minggu ketiga setiap bulan, petani ikan dapat menjadwalkan panen. Jika sayur bayam dibutuhkan rutin, petani bisa melakukan penanaman bergilir (staggered planting). Mengembangkan produk olahan sederhana yang dibutuhkan dapur, seperti tepung pisang, tepung ubi, atau bumbu dasar kunyit dan lengkuas kering dari rempah lokal. Ini menambah nilai ekonomi dan memperpanjang umur simpan. Sementara itu, dari sisi penyelenggaraan SPPG sendiri, maka sudah seharusnya Badan Gizi Nasional (BGN) sebagai pemilik program dan kegiatan untuk mendorong realisasi kebijakan wajib serap lokal (minimal 80%) di setiap SPPG. Data petani lokal harus terpeta dan terintegrasi dengan sistem pengadaan SPPG. BGN juga dapat menyusun Buku Menu SPPG Lokal Kalsel yang mempertimbangkan peta produk petani lokal Kalsel dan memuat resep-resep bergizi berbahan lokal, sekaligus spesifikasi kualitas bahan baku yang dibutuhkan dari petani (ukuran, kesegaran, cara packing). Untuk itu perlu kiranya BGN memfasilitasi pertemuan rutin antara Pengelola SPPG, Perwakilan Petani/Nelayan, Ahli Gizi, dan Dinas Terkait. Forum ini untuk sinkronisasi permintaan-penawaran, menyelesaikan kendala, dan berinovasi menu. Kehadiran SPPG/Dapur MBG adalah game changer. Ia bukan lagi sekedar "dapur memasak", melainkan jantung dari ekosistem pangan berdaulat skala lokal. Jika dikelola dengan prinsip kemitraan yang setara, SPPG akan menjadi penggerak utama peningkatan pendapatan petani Kalsel, pencipta lapangan kerja baru, sekaligus penjaga mutu gizi anak sekolah. Program MBG dengan SPPG-nya memiliki potensi untuk menjadi model nasional yang menunjukkan bahwa ketahanan gizi dan ketahanan ekonomi adalah dua sisi dari mata uang yang sama, dan kedua-duanya bisa dimulai dari dapur-dapur yang tersebar di seluruh penjuru Kalimantan Selatan.

Baca Selengkapnya...